Tag Archives: spokes-characters

Analisis Spokes-characters dalam Advertising

Spokes-characters

Menurut Callcott dan Phillips (1996), “spokes-characters”, pada dasarnya, digambarkan sebagai suatu pemeran dari dunia khayalan yang dipakai untuk menjual suatu produk atau jasa/layanan”. Lebih dari itu, spokes-characters dapat menyiratkan hubungan antara pendukung produk khayalan dan rekan pendamping manusia (spokes-persons), yang berfungsi untuk berbicara atas nama suatu produk dan hadir dalam bentuk visual. Pada awal abad ke-20, advertising characters erat dihubungkan dengan konsep merek dagang (trademarks), dimana sebagai tujuan utama mereka untuk menciri satu produk dari yang lainnya di dalam pasar yang kompetitif. Dalam banyak kesempatan, konsumen mulai merasakan hubungan dengan karakter tersebut, dan pemasang iklan tentunya mengingat akan keuntungan ini karena karakter yang dipakai dapat juga untuk menghadirkan merek mereka (Callcott dan Lee, 1996).

spokes-characters

Phillips (1996) menemukan tiga cara advertising spokes-characters dalam menjangkau targetnya yaitu dengan brand identification, brand personification, dan brand continuity. Tugas pemisahan komunikasi ini dan dampak daripada advertising icons tersebut dalam membangun sebuah brand tidaklah mudah, sebab di antara mereka, satu sama lain tidak ada yang eksklusif. Cara di mana advertising spokes-characters berkomunikasi dengan konsumen ditujukan dengan “likeability” sebagai ukuran efektivitas iklan. Menurut Callcott dan Phillips (1996), iklan yang memiliki advertising characters akan menjadi lebih “likeable” dibanding iklan tanpa karakter. Menurut Walker dan Dubitsky (1994), likability terhadap iklan spokes-characters dapat juga digunakan untuk mengukur efektivitas iklan.

Berdasarkan hasil analisis wawancara mendalam Callcott dan Philips dalam Garretson dan Niedrich (2004) diketahui bahwa konsumen memerhatikan faktor-faktor dari karakter seperti nostalgia dan relevansi terhadap produk.

Karakter Nostalgia

Konsumen diekspos dengan karakter pada usia muda yaitu sejak beberapa karakter menjadi endorser produk anak-anak. Spokes-characters tersebut bertahan dari generasi ke generasi dan dapat mempertahankan kehadirannya secara konstan dalam kehidupan konsumen dengan kemunculannya dalam iklan, kemasan produk, dan promosi penjualan. Selain itu, spokes-characters juga digunakan untuk mengingatkan kembali konsumen akan merek yang telah mereka gunakan dan percayai sejak masa anak-anak. Beberapa perusahaan memperkenalkan kembali slogan serta karakter mereka dari masa lalu, sementara yang lain hanya mengingatkan kembali konsumen tentang merek yang pernah menjadi bagian hidup mereka selama beberapa tahun.

Karakter Relevansi

Callcott dan Philip dalam Garretson dan Niedrich (2004) mengatakan bahwa konsumen benar-benar mempertimbangkan pentingnya kecocokan antara karakter dan produk. Menurut Garretson dan Niedrich (2004) bahwa relevansi merupakan tingkatan di mana dua stimuli sesuai atau cocok bersama. Cocok dalam konteks spokes-characters merupakan tingkat di mana spokes-characters diharapkan dapat serasi dengan produk yang dihubungkan dengannya dalam promosi.